KONLFIKTUAL MAHASISWA DAN KOTA PELAJAR SYARAT KEMAKSIATAN
KONLFIKTUAL MAHASISWA DAN KOTA PELAJAR SYARAT KEMAKSIATAN
Kota pelajar, pernahkan terlintas dibenak anda tentang apakah yang dimaksud kota pelajar tersebut?! Kebanyakan orang mengartikan kota pelajar adalah dimana kota yang memiliki banyak institusi pendidikan, dan tersedianya sarana dan prasarana untuk menunjang belajar maupun mengajar. Sedikit dari orang yang sebagian hanya mengenal kota pelajar adalah sebagai kota tujuan untuk kebutuhan studi, padahal kota pelajar lebih dari makna tersebut. Ok! Mungkin yang mempunyai fikiran tersebut hanya orang-orang yang merasa peduli,[1] terhadap masa depan anak-anaknya dimana mereka (orangtua) peduli terhadap kelangsungan kehidupan mereka kelak, dan hal ini hanya diketahui bahwa tujuan mulia seorang arangtua membekali ilmu anaknya sebatas “Belajar”.
Kata “Belajar” dan “Kota Pelajar” merupakan pemaknaan yang singkron bila dikaitkan dengan tujuan mulia orangtua terhadap anak-anaknya. Namun seringkali makna ini berubah ketika si anak sudah masuk dan berada ditengah hiruk pikuk perkuliahan atau bisa di sebut ”Anak kuliahan”. Se-abrek, setumpuk tugas-tugas dari dosen, kegiatan kampus, dan kegiatan diluar kampus sering menimbulkan tekanan psykis/ mental si anak. Bisa dilihat dan dirasakan ketika memasuki masa-masa orientasi mahasiswa baru (PESMABA), Itu hanya sekelumit kegiatan untuk calon mahasiswa, belum merasuk pada kegiatan kuliah sehari-hari. Keadaan seperti halnya tersebut mempunyai beban tersendiri bagi Si anak untuk tetap survive dan lanjut hingga masa akhir yaitu tekanan tugas akhir (TA/ SKRIPSI). Persoalan tersebut lain lagi dengan beban kehidupan pribadi mereka yang sering bahkan menjadi momok/ penyakit tidak sehatnya tujuan awal dari “BELAJAR” yang di percayakan oleh orangtua kepada anaknya untuk menuntut ilmu.
Urain makna kota pelajar sebagai tujuan mulia yaitu belajar (menuntut ilmu) , permasalahan tekanan studi yang dihadapi anak (Mahasiswa), dan konflik kehidupan pribadi menimbulkan kebiasaan yang tidak di duga-duga sehingga hal tersebut memunculkan efek negative bagi mahasiswa, perasaan jenuh, penat tumbuh yang kemudian pelan-pelan merasuk menjadikan stress di kehidupan mereka. Alhasil dengan stress yang timbul tersebut menuntut mahasiswa mencari hiburan untuk melepas kepenatan dari setumpuk kegiatan-kegiatan perkuliahan mereka. Hiburan tersebut mereka peroleh dengan banyak cara secara kota pelajar yang notabene kota center atau kota – kota besar syarat akan hiburan baik itu secara tertutup ataupun terbuka.[2] dengan akses hiburan yang tersedia bebas tentu menjadi pilihan tersendiri bagi mahasiswa untuk melepas penat. Bisa lah, dengan kata ingin tahu dan penasaran mahasiswa mencoba berbagai hiburan tersebut, tetapi pilihan ini sering terjatuh pada makna hiburan tertutup yang lebih privat hanya untuk melepas penat, dan tidak tidak menutup kemungkinan bAnyak juga yang memilih untuk hiburan rakyat atau hiburan terbuka yang lebih murah dan flexible. Namun keinginan ini merujuk pada rangkaian kehidupan pribadi mereka dengan melihat hubungan sosial mereka yaitu jalinan pertemanan. Nah kita bisa menelaah arti pertemanan ini dengan berbagai makna dan pandangan darimana si anak (Mahasiswa) melihat dan memilah teman sehingga teman ini mempunyai fungsi yang positif dan jelas dapat mengembangkan jiwa sosial mereka.
Disini penulis ingin menyajikan pandangan hubungan antara dunia kampus dan fasilitas kota pelajar yang besar dan semakin lengkap untuk menunjungan suasana belajar sekaligus hiburan, tetapi disini penulis ingin menonjolkan sisi negative perkembangan kota pelajar sebagai tujuan belajar mahasiswa sehingga dengan perkembangan kota pelajar sangat mempengaruhi kebiasaan mahasiswa sehari-hari, dan perlu dicermati dalam melihat tulisan ini bukan ingin melihat sisi negative namun juga sisi positif yang juga banyak dengan perkembangan kota sebagai kota pelajar.
Seperti yang kita ketahui bahwa kota tidaklah hanya sebagai pusat perekonomian namun juga sebagai tempat untuk tujuan pencari kerja, dalam konteks ini kota pelajar berubah menjadi pusat hiburan modern sekaligus embel-embel negative yang ditimbulkan dari kebutuhan manusia yang tinggal di kota tersebut, seperti tingkat kepadatan, kemacetan, dan tingginya persaingan, sehingga faktor tersebut menimbulkan rasa jenuh, stress, yang kemudian muncul kebutuhan akan hiburan. Untuk melihat hiburan ini juga dipilah menjadi beberapa kategori yang pertama adalah hiburan rakyat, kedua, hiburan kelas menengah dan ketiga, hiburan kelas atas. Nah dari kategori tersebut bisa melihat secara langsung peran hiburan ini bagaimana mempengaruhi pola kebutuhan kehidupan mereka dikota. Dari ketiga kategori hiburan mempunyai sifat berbeda menurut kepuasan pelanggan sebagai penikmat hiburan, tetapi ketika masuk ranah kota pelajar hiburan dalam kategori kedua, besar pengaruh terhadap perkembangan mahasiswa dikota tersebut, tak luput dari pengaruh perkembangan global yang memunculkan berbagai macam life style yang secara langsung mempengaruhi pergaulan mahasiswa.
Penggolongan kategori hiburan ini ditujukkan sebagai pandangan hiburan yang seperti apa dan hiburan yang bagaimana dimana banyak digandrungi dan diminati mahasiswa. Hal ini yang menjadi tolak pangkal penulis ingin lebih dalam melihat bagaiman pergaulan mahasiswa di kota pelajar yang telah berkembang lebih pesat, dengan lebih banyak peminat mahasiswanya yang ingin mengembangakan diri di dunia kampus dikota tersebut. Alhasil banyak sisi negative dan tidak mendukung untuk mengembangkan karakter mereka, yang terjadi adalah salah pergaulan. Dengan banyaknya tempat-tempat hiburan malam dan ligkungan masyarakat yang sebenarnya menolak, tetapi karena alasan ekonomi membiarkan permasalahan sosial tersebut menjadi merajalela. Selain tempat hiburan malam tersebut, juga didukung dengan banyaknya temat singgah hotel dan kost dijadikan sebagai sarana pendukung kemaksiatan. Untuk melihat sisi negative tersebut, penulis beri contoh kota yang katanya mau dijadikan kota pelajar yaitu kota Malang, dengan kondisi alam sangat mendukung untuk belajar tetapi, tujuan awal ini melenceng karena banyaknya tempat hiburan malam, dan kost bebas, hal tersebut sangat ironi, miris, ketika banyak mahasiswa berprofesi ganda, peredaran narkobapun banyak. Bukankah persolaan tersebut tentunya menilik daripada peran pemerintah daerah, bahkan hampir tidak ada tindakan untuk penertiban penyedia tempat-tempat kost bebas. Kesadarna masyarakatpun ketika dihadapakan pada persoalan ekonomi di lingkup kota menjadi alasan utama, berbeda ketika dalam ruang lingkup kampong masih ada toleransi dan tindakan dari masayarakat sekitar. Continous…….
[1] Merasa peduli dalam artian membedakan pemikiran antara orangtua yang mempunyai biaya untuk sekolah/ kuliah di kota besar, dan orangtua yang cukup mampu untuk membiayai sekolah, kuliah dikota besar dan orangtua yang tidak mampu untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Jelas pada pengertian ini “merasa peduli” adalah bentuk dari kemampuan berfikir orangtua yang pernah mengenyam pendidikan lebih tinggi.
[2] Hiburan terbuka; tepat-tempat hiburan yang mempunyai sisi positif bagi perkembangan diri yang disediakan pemerintah maupun swasta, pameran rakyat “alun-alun”, wahana alam, museum, pameran buku dll.
Hiburan tertutup; tempat karaoke, club.

Masalah ini sudah dibahas bersama dengan beberapa instansi tersebut dan tinggal melaksanakan saja nantinya. Untuk mendatangi tempat hiburan malam, Disdik tidak jalan sendiri namun akan dibantu oleh pihak kepolisian.
iya, pasti sudah ada tindakan untuk mengkoreksi menjamurnya tempat hiburan malam di kota malang ini, tetapi untuk kelanjutan tindakan tidak pernah ada, itu untuk hiburan yang konotasi dewasa. namun ketika melihat banyak menjamurnya tempat Kost yang dijadikan multiple fungsi negatif, bebas, campur dan sistem sewa semalam. apakh ini sudah menjadi koreksi pemerintah setempat? saya kkira untuk menghilangkan permasalahn sosial ini tidaklah mudah dan tidak akan bersih namun, setidaknya tindakan itu ada kontrol keberlanjutan, tidak hanya satu atau duakali. masayarakatpun tidak menginginkan penyakit sosial ini tumbuh subur di kota yang disebut kota pelajar, ironis dan tidak singkronkan dengan fungsi nama kota pelajara tersebut.!! tapi untuk mampir dan comentnya thanks sodara :d:D:D